…Matahari…

May 22nd, 2007 by bungbens

Seorang wanita bertanya pada seorang
pria tentang cinta dan harapan.

Wanita berkata ingin menjadi bunga
terindah di dunia
dan pria berkata ingin menjadi
matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria
ingin jadi matahari,
bukan kupu-kupu atau kumbang yang bisa
terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan
dan pria berkata ingin tetap menjadi
matahari.
Wanita semakin bingung karena matahari
dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari.

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix
yang bisa terbang ke langit jauh di
atas matahari
dan pria berkata ia akan selalu
menjadi matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa.
Wanita sudah berubah tiga kali namun
pria tetap keras kepala ingin jadi
matahari
tanpa mau ikut berubah bersama wanita.

Maka wanita pun pergi dan tak pernah
lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria
tetap menjadi matahari.

Pria merenung sendiri dan menatap
matahari.

Saat wanita jadi bunga, pria ingin
menjadi matahari agar bunga dapat
terus hidup. Matahari akan memberikan
semua sinarnya untuk bunga agar ia
tumbuh, berkembang dan terus hidup
sebagai bunga yang cantik. Walau
matahari tahu ia hanya dapat memandang
dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu
yang akan menari bersama bunga. Ini
disebut kasih yaitu memberi tanpa
pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap
menjadi matahari agar bulan dapat
terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah
pantulan cahaya matahari, tetapi saat
semua makhluk mengagumi bulan siapakah
yang ingat kepada matahari. Matahari
rela memberikan cahaya nya untuk bulan
walaupun ia sendiri tidak bisa
menikmati cahaya bulan, dilupakan
jasanya dan kehilangan kemuliaannya
sebagai pemberi cahaya agar bulan
mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini
disebut dengan Pengorbanan,
menyakitkan namun sangat layak untuk
cinta.

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat
terbang tinggi jauh ke langit bahkan
di atas matahari, pria tetap selalu
jadi matahari agar Phoenix bebas untuk
pergi kapan pun ia mau dan matahari
tidak akan mencegahnya. Matahari rela
melepaskan phoenix untuk pergi jauh,
namun matahari akan selalu menyimpan
cinta yang membara di dalam hatinya
hanya untuk phoenix. Matahari selalu
ada untuk Phoenix kapan pun ia mau
kembali walau phoenix tidak selalu ada
untuk matahari. Tidak akan ada makhluk
lain selain Phoenix yang bisa masuk ke
dalam matahari dan mendapatkan cinta
nya. Ini disebut dengan Kesetiaan,
walaupun ditinggal pergi dan
dikhianati namun tetap menanti dan mau
memaafkan.

Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita

Doa Seorang Bapak

March 1st, 2007 by bungbens

Ya Rabb,
yang menggenggam jiwa-jiwa setiap makhluk yang hidup…

Jadikanlah kami orang tua yang dapat dibanggakan oleh Engkau dihari akhir
Jadikan kami ayah yang selalu dikenang anak-anaknya sebagaimana kami mengenang
Lukman
mengenang Ibrahim AS dan
mengenang baginda Rasulullah SAW

Berikanlah kami kekuatan agar mampu mendidik anak-anak kami
menjadi anak yang sholeh
anak yang melindungi agamanya
membela kaum yang terdhalimi
dan dapat menolong kedua orang tuanya
di hari penghitungan

Jauhkanlah ia dari kegelapan
Dekatanlah ia senantiasa kepada cahaya
Cahaya dari-Mu
Ya, RAbbi…

Ya Allah,
kuatkanlah bahu ini
kokohkanlah punggung ini
agar kami dapat menahan beban dan amanah
sebagai seorang ayah
sebagaimana ayah-ayah terdahulu yang menjadi teladan bagi kami

Hanya kepada-Mu lah kami berharap
dan memohon perlindungan
amin

build my son

March 1st, 2007 by bungbens

Build My Son

Build me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face him self when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will
not be
where his backbone should be;
a son who will know Thee- and that
to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him, I pray, not in the path of
ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here, let him learn to stand up in the storm;
here, let him team compassion for those who fall.

Build me a son whose heart will be
clear, whose goals will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh, yet never forget how to weep;
one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his,
add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious,
yet never take himself too seriously.

Give him humility, so that he may
always remember
the simplicity of true greatness,
the open mind of true wisdom,
the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to
whisper,
“I have not lived in vain.”

Doa Seorang Ayah

March 1st, 2007 by bungbens

DOA SEORANG AYAH UNTUK
ANAKNYA

Jendral
Douglas MacAthur

Tuhanku,
binalah anak hamba
untuk menjadi seseorang yang cukup kuat untuk mengakui kelemahannya,
dan cukup berani untuk mengakui ketakutannya,
bangga dan tabah serta jujur dalam mengakui kekalahan,
rendah hati dan lemah lembut dalam kemenangan.

Binalah anak hamba menjadi seseorang
yang mampu mewujudkan cita-citanya,
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja;
seorang anak yang sadar bahwa mengenal Engkau dan mengenal dirinya sendiri,
adalah landasan segala pengetahuan.

Kumohon kepadaMu,
janganlah pimpin dia di jalan yang mudah dan enak,
namun berilah dia kesempatan untuk mengalami tekanan dan cobaan
di jalan yang penuh kesulitan dan tantangan.
Berilah dia kesempatan belajar
untuk tetap tegak dalam prahara,
dan welas asih kepada yang mengalami kegagalan.

Binalah anak hamba untuk berhati
tulus,
dan bercita-cita tinggi;
seorang anak yang mampu memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain;
seorang anak yang memahami arti tawa ceria,
tanpa melupakan arti tangis duka;
seorang anak yang mampu memandang jauh ke masa depan,
namun tidak melupakan masa yang telah silam.

Dan bila semua ini telah menjadi
miliknya,
aku mohon kepadaMu, tambahkanlah secercah kejenakaan,
supaya dia dapat bersungguh-sungguh,
dan juga dapat menikmati hidupnya.

Anugerahilah dia kerendahan hati dan
kesederhanaan,
yang merupakan dasar keagungan yang sejati,
kesediaan untuk menerima kenyataan,
yang merupakan dasar kearifan yang sejati,
dan kelembutan yang merupakan dasar dari kekuatan yang sejati.

Dan akhirnya, jika semua itu telah
terwujud,
hamba, ayahnya,
akan memberanikan diri untuk berbisik,
“hidup hamba tidaklah sia-sia.”

tukang KridiT

April 7th, 2006 by bungbens

Lagu lain dari seri “Tukang”. Lagu ini membahas tukang kredit dan dilemanya. Barang yang didagangkan seputar perabot rumah tangga. Tukang kredit semacam ini muncul dalam film “Musuh Bebuyutan” (1974). Dalam serial sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Rano Karno kembali mengangkat keberadaan tukang kredit. Baik dalam “Musuh Bebuyutan” dan “Si Doel”, tukang kredit diceritakan sebagai orang Sunda namun dalam lagu ini sang tukang kredit adalah orang Betawi.

Lagu yang diciptakan oleh Djoko Subagio, ini dibawakan secara duet oleh Benjamin Sueb bersama Ida Royani dengan iringan Gambang Kromong yang kental dengan pengaruh musik dari Cina.

(Krídíííít)

Kridit
Kridit kridit
Kridit barang mpo’ é pecé belé
Po’ ayo pili ajé
piring gelas panci teko ní termosnyé

(bang, sini bang)
(iye po’ )

adé engga’ bang penggorengannyé?
(ga bawa’)

bang ni brape hargenye bang?
(nyang mané?)

piring njegong yang adé kembang ijonyé

*
selusin tuju ratus panjernyé dué ratus
seari gocap ditagi
nyap nyap

hargénye keliwatan é é mending beli’ kontan
ngutang melulu nurutin setan

mpo’
knapé sewot?
(siapé yang séwot bang?)

mau ngutang ape ngajak beklai?
(émang gué jagoan bang mo beklai?)

po’ untung sayé dikit
mpo’ ngutang tarik urat susé ditagi
(ma’lum de bang laki sayé belom gajian)

(huh, ngutang pinter bayar susé)

**
selusin tuju ratus
panjernyé dué ratus
seari gocap ditagi
nyap nyap

hargénye keliwatan é é mending beli’ kontan
ngutang melulu nurutin setan

mpo’
knapé sewot?

mau ngutang ape ngajak berantem?
(siapa yang mau brantem bang?)

po’ untung sayé dikit
mpo’ ngutang tarik urat susé ditagi
susé ditagi

ditagi entar entar
nembak mlulu

IkLan

April 7th, 2006 by bungbens

Ini jelas lagu iklan. Lagu iklan yang disisipkan dalam album “Nenamu”. Produk yang diiklankan secara jelas disebutkan berulang kali dalam lagu ini. Selain lagu ini, lagu iklan yang lain juga adalah “Nenamu” (produk yang sama dalam album yang sama!) dan “Avitson”, sebuah merek balsem yang kini masih dapat dijumpai di warung-warung.

Lagu gambang kromong ini diiringi ritmik beberapa instrumen brass, mungkin instrumen yang sama dengan yang digunakan pada kesenian tanjidor. Lagu ini dibawakan dengan apik oleh Benjamin Sueb dan Inneke Koesoemawati. Sungguh lagu iklan yang mengigit.

(Ambilin gué aér gidah)
(gué aus níh)

bang, ujan-ujan yang enak kité ngapain?
terserah adé’ abang sih tinggal nurutin

apé mau susu? mau ngupi apé mau kué?
masa’ ngga’ tau kedoyanan hobi gué

*
éh masa’ abang ngga’ bosen
betaun berumé tanggé
jangan lupé kudu lu inget
abang doyan nyang anget-anget
(apé si bang?)

seduin aér té
té cap Botol dari Slawi
rasénye ni’mat seger sepet harum dan wangi

(íní baru té ní! ha ha ha ha ha)
(emang yang laén bukan té bang?)
(íní nyang énak! té cap Botol ha ha ha)
(duilah, segitu girangnyé bang)
(ha aha, tau’ de ah’)

**
éh masa’ abang ngga’ bosen
betaun berumé tanggé
jangan lupé kudu lu inget
gué doyan nyang anget-anget
(iyé bang)

seduin aér té
té, cap Botol dari Slawi
rasénye ní’mat seger sepet harum dan wangi

(coba’ lu cium, wangi ngga’?)
(ahhh, wangi’ bang!)
(terang ajé, té cap botol!)

sueb

April 7th, 2006 by bungbens

Lagi dari album “Nenamu”. Kali ini dibawakan sendirian oleh Benjamin Sueb dengan beberapa celoteh dari pemain musik(?). Lagu ini dimainkan campuran antara gambang kromong dan instrumen modern. Terdengar jelas, lantunan bas yang cantik di balik irama dari gendang tradisional. Entah sengaja atau tidak, mulai dari refrain awal, Benjamin menyanyikan lagu ini dengan nada yang terlalu tinggi (seperti yang dikeluhkan beliau di sela-sela lagu ini) sehingga suaranya menjadi serak. Pesan yang disisipkan dalam lagu ini sungguh memikat, cocok diterapkan di masa kini. Benjamin membawakan lagu ini dengan dialek Betawi pinggir atau juga dikenal dengan Betawi ora (karena menggunakan kata “ora” untuk kata “tidak”). Dengan fasih Benjamin menggunakan kata “gua” dan “guah”, dan beberapa ciri khas Betawi pinggir lainnya. Mungkin lagu ini dimaksudkan untuk para pendatang dari pinggiran Jakarta agar kembali membangun desanya, daripada menambah kepusingan (ngeribedin) di Ibukota.

(Héy Tong Amin emangnya lu mo nyumbang nyanyi ya’?) (Ya’. Saya mo nyanyi ah’. Lagu, Pulang Mudik, tone-nya’ di Pe’ ya’!) (oke dah kalo gituh) (dengerin ya’!) Cari makan susah, pala tujuh keliling Napas jadi nyesek, sebab udara kotor Siang gerah banget, tidur banyak nyamuk Begini ko’ rasanya idup di kota’ Kalo begini nyata’, gua ora betah Minggu depan niatnya péngén balik mudik ajah Pikiran kaga’ ruwet, napas jadi lapang Makan ama garem, ga urung! Kenyang juga’ * Bejubel di kota’ ngapa ngeribedin ajah Kenapa ninggal rejeki nyang udah ada’ Pegang lagi tu pacul, jangan séndérin ajah Tangan lecet, ada hasilnyah Gunung-gunung baris, sawahnya yang lebar Kali-kali bening, airnya mengalir Semua ngarep kita’ pada pulang ke desa’ Balik mudik, bahagia’, rumah tangga’ (Uratlu ampé’ keluar, nyanyi apa manggil ujan luh?) (Tukang musik gila da ah, gua dibikinin tone-nya tinggi banget!) ** Bejubel di kota’ ngapa ngeribedin ajah Kenapa ninggal rejeki yang udah ada’ Pegang lagi tu pacul, jangan séndérin ajah Tangan lecet sedikit, ada hasilnyah Gunung-gunung baris, sawahnya nyang lebar Kali-kali bening, airnya mengalir Semua ngarep kita’ pada pulang ke desa’ Balik mudik, bahagia’, rumah tangga’ (Sepuluh kali aja nyanyi begini, mati guah) (Buset dah!)

benyamin

April 7th, 2006 by bungbens

Konon Benjamin menceritakan pengalamannya ketika sedang ronda. Ia menjumpai sosok yang berkelebat yang mencurigakan pada dini hari. Rupanya, si bayangan ini adalah temannya yang sedang mengunjungi pacarnya. Pacaran kok di pagi buta.

Lagu ini datang dari album “Kompor Meleduk”. Judul album ini saya yang beri nama. Sebenarnya di kasetnya tidak ada tulisan “Kompor Meleduk” sebagai judul album, tapi malah ada tulisan berwarna-warni

di sampul kasetnya. Tanpa gambar, tanpa foto. Hanya tulisan sebanyak enam baris. Album ini merupakan album dengan jenis musik Pop dengan diperkuat oleh iringan band Empat Nada, pimpinan A. Riyanto. Ciri khas album ini adalah semua lagu diiringi dengan gitar melodi yang menggunakan echo.

(Hey, Pa’ang,)
(Bang Toy,) (oy)
(Mat Jaté’)
(Jakri’) (woy)
(Síní dengerín níh, ayé mau cerité)

Temen-temen, dengerin ayé cerité
É semalem, giliran ayé rondé
Kebeneran, é ujan rincik-rincik
Bekelébat, adé yang mindik-mindik

Bulu tengkok, kontan padé mengkirik
Ayé pikir, orang apé bebongkong
Randak-rendek, é dié bulak-balik
Di pinggir got, akhirnyé dié nongkrong

*
Lantas ajé ayé cabutin golok
Ayé bentak, orang apé kucing? (kuciiing)
Kalo kucing kenapé lú nyautin?
Gué tabas, leherlú, ngegelinding, ah

Dié nyautin sembari gemeteran
gué ní Min, lagi cari angin
Ngga’ taunyé si Ukay mo’ pacaran
Amé si Pié, nyang baru dicerèín

Atu
Dua
Tiga
Pukul tigé malem pacaran, haha

**
Lantas ajé ayé cabutin golok
Ayé bentak, orang apé kucing? (kuciiing)
Kalo kucing kenapé lú nyautin?
Gué tabas, leherlú, ngegelinding

Dié nyautin sembari gemeteran
gué ní Min, lagi cari angin
Ngga’ taunyé si Ukay mow pacaran
Amé si Pié, nyang baru dicerèín

(Pacaran dari pintu depan dong Kay)
(Ntar ditangkep hansip lú)

kilik KupiNg

April 7th, 2006 by bungbens

Lagu jenaka yang dibawakan Benjamin ini hanya diiringi iringan dua gitar listrik (atau satu gitar dan satu organ? yang jelas satu gitar polos dan satu dengan efek wah), bas dan gendang tradisional (dua gendang) saja. Liriknya yang sederhana dan dilantunkan lepas khas Benjamin dapat membuat Anda minimal tersenyum. Kurang jelas ini sebenarnya berjudul “Kilik Kuping” atau “Yang Paling Enak”.

Btw, untungnya zaman Benjamin dahulu belum populer flu burung.

(ker ker… ck ck ck ck… kerr…)
(minta’ bulunyé atu’ yé)
(kuping gatel nih)

(ehm)
paling énak daging ayam
énak lagi katé bulunyé
kilik kuping bisa’ merem
kegeli-an asyik rasényé

aduh geli’ énak bener
pelan-pelan kilik’ kuping
badan bisa’ jadi jengker
mulut ményong kaki kiting

*
aduduh aduduh aduh aduh
aduh énak nak énak énak
asyik syik asyik asyik
guri guri guri guri

aduhuhuh aduh aduh perih
bulunyé udéh udéh jarang
entar’ entar’ kilik lagi
kalou engga’ adé orang

(héh ngapain lúh ngilik kuping ajé)
(engga cang eheheh kuping gatel ni cang sssht ehm)

**
aduduh aduduh aduh aduh
aduhuhuh duhuh énak énak
asyik asyik asyik asyik
é guri guri guri guri

aduduhuh aduh aduh perih
bulunyé udéheheh udéh jarang
entar’ mm kilik kilik lagi
kalou engga’ adé orang

(bisa’ mati kegurian níh)

ketimun

April 7th, 2006 by bungbens

Alkisah ada tukang rujak (?) bernama bang Karta yang berjualan di pinggir peron stasiun kereta. Karena kain merah bang Karta terkena kuah rujak, maka kain itu dikibas-kibaskan. Masinis dalam kereta yang sedang melaju menuju stasiun kontan menghentikan kereta sambil bertanya ke bang Karta, “Ada apa?”. Bang Karta melihat dagangannya dan menjawab bahwa yang tersisa tinggal ketimun saja.

Dagelan kuno yang mungkin sulit membuat orang sekarang untuk tertawa, apalagi dengan dialek dan kosa kata Betawi tengah yang kini jarang terdengar lagi. Betapapun, lagu ini merupakan lagu favorit saya. Iringan alat musik gambang dan kromongnya tidak terlalu ramai dan seperlunya saja, walaupun ciri khas gambang kromong tetap ada, yaitu tehyan tetap melantunkan nada yang sama dengan yang dilantunkan penyanyi. Plus koor instrumen brass ala tanjidor juga ikut mempercantik lagu ini.

néng klonéng klonéng
tandé adé kerété
nyang mau dateng dari jurusan koté
padé blingsatan nyang nungguin semué
siap sedié ke arah tujuannyé

di pinggir péron
bang karta’ uplek ngulek
répot nyang beli’
répot idungnyé pilek

sekejep maté dagangan ga’ sisénye
ketawé nyengir bayangin duit untungnyé

*
cukin mérényé ah belepot kué
dikibras-kibras, brebet, atas ke bawé
lagunyé manglé a terdenger nyaté
buat ngilangin, euheuy, pegel dan capé’

tapi akibatnyé jadi berabé
masinis ngeliat
(adé bahaya apé bang?)
kendati kerété
secepet kilat
masinisnyé ngerém
sembari loncat

(adé apé bang?)
(tinggal ketimun doang nih)

**
bang Karta’ bangga’ amé hasil karyényé
ngga’ kurang-kurang pelanggan yang setié
untung ga’ denger masinis memakinyé
sialan Karta’ ngagetin ati gué

(ngibrasin cukin jangan di pinggir ríl dong)
(gué kiré si adé bahayé apé)

***
cukin mérényé ah belepot kué
dikibras-kibras, brebet, atas ke bawé
lagunyé manglé a terdenger nyaté
buat ngilangin, euheuy, pegel dan capé’

tapi akibatnyé jadi berabé
masinis ngeliat
(adé bahaya apé bang?)
kendati kerété
secepet kilat
masinisnyé ngerém
sembari loncat

(aduh, jangan ngibrasin cukin méré di peron dong!)

****
bang Karta’ bangga’ amé hasil karyényé
ngga’ kurang-kurang pelanggan yang setié
untung ga’ denger masinis memakinyé
sialan Karta’ ngagetin ati gué

(aduh, deg degan ampé’ gué)